4 Pilar Kebangsaan – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Thu, 22 Aug 2024 02:16:54 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png 4 Pilar Kebangsaan – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439, Momentum Teladani Semangat Gigih Rasulullah Untuk Jaga 4 Pilar Kebangsaan https://ubharajaya.ac.id/peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw-1439-momentum-teladani-semangat-gigih-rasulullah-untuk-jaga-4-pilar-kebangsaan/ Thu, 21 Dec 2017 02:29:12 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1693 Bekasi – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (ubhara Jaya) mengangkat tema Jadikan Akhlak Nabi Muhammad SAW Sebagai Teladan Dalam Mewujudkan Kehidupan Yang Rukun Aman dan Damai, pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2017. Pada Jumat, 15 Desember 2017, di Auditorium Ubhara Jaya. Peringatan tersebut dihadiri ratusan peserta yang merupakan civitas akademika Ubhara Jaya mulai dari jajaran Rektorat, pegawai, dosen, serta mahasiswa.

Pada acara yang banyak dipadati peserta berbaju putih tersebut dilakukan shalawat dan doa bersama. Alunan tabuhan alat musik dari Timur Tengah, yakni Rebana turut menyemarakkan acara.  Acara dibuka terlebih dahulu dengan sambutan dari Ketua Pelaksana Kegiatan yakni Ketua Pengurus Masjid Ulul Albab UBJ, Dr. H. Muh. Yahya Agil, MM., kemudian dilanjutkan sambutan Rektor Ubhara Jaya Irjen Pol. (Purn) Drs. H. Bambang Karsono, SH., MM.

Dalam sambutannya, Rektor Ubhara Jaya menyampaikan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum yang tepat baik individu maupun kelompok masyarakat untuk meneladani semangat juang yang begitu gigih dari Rasulullah SAW dalam menegakkan syariat Islam di tengah-tengah gelapnya zaman jahiliyah.

“Dengan melihat kembali semangat perjuangan Rasulullah, kita bisa meneladani akhlak yang begitu mulia dari beliau, jadi jangan menunda untuk berbuat kebaikan yang bisa bermanfaat bagi sesama dan jangan lupa pula untuk senantiasa bersyukur pada nikmat Allah yang tidak bisa kita hitung,” ungkap Rektor, disambut riuh tepuk tangan undangan yang hadir.

Rektor pun berpesan untuk mengisi hidup dengan selalu berbuat kebaikan. Salah satunya adalah dengan menjadi agent of change dalam kehidupan pribadi maupun sosial. “Empat Pilar Kebangsaan yang sudah kita dengarkan dari Pak Zulkifli Hasan Ketua MPR kemarin jadi perjuangan kita yang kekinian, perjuangan di zaman now dengan menjaga Empat Pilar tersebut,” ujarnya.

Pada akhir sambutan, Rektor mengingatkan kembali untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah. “Kta bisa menyongsong kehidupan di masa depan dengan peningkatan iman, amal, dan ilmu serta taqwa kepada Yang Maha Kuasa.”

Puncak rangkaian kegiatan pada peringatan Maulid Nabi SAW ialah ceramah yang menghadirkan Ustadz H. Abdul Muta’ali, MA., M.IP., yang merupakan Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI untuk memberikan tausiyah. Beliau menegaskan, bahwa Islam merupakan agama yang memiliki toleransi tinggi. Namun Beliau menyayangkan keindahan Islam tersebut saat ini belum bisa tampak ke permukaan karena rendahnya minat baca umat muslim saat ini.

“Bagaimana agar Islam bisa tampak ke permukaan? Sehingga yang hadir adalah Islam Rahmatan Lil Alamiin. Kuncinya satu, yakni Baca, Iqra. Membaca dan belajar dari sumber utama, yaitu Al Quran. Sekarang apa-apa googling, wikipedia, itu yang menjadi kekurangan kita sekarang,” tegasnya.

Beliau melanjutkan, bahwasanya di dunia ini tidak ada negara yang tidak maju karena membaca. Membaca memutus rantai kebodohan. “Negara dengan tingkat baca tertinggi di dunia kalau saudara-saudara ingin tahu, adalah Palestina, rata-rata orang Palestina satu hari baca 295 halaman. Dan Kedua adalah Israel yang hanya selisih 7 halaman. Kok bisa? Bisa, karena kalau orang-orang Palestina tidak baca mungkin mereka sudah habis dari dulu, dengan baca mereka bisa melakukan inovasi pertahanan,” katanya.

Melalui kegiatan membaca, setiap muslim dan muslimah juga bisa meneladani akhlak mulia Rasulullah yang luar biasa hebat. “Kita perlu bersyukur akan hal itu, yaitu menjadi seorang muslim dan muslimah. Semoga pelan-pelan kita bisa mencontoh akhlak mulia Rasulullah,” ucapnya. (Tim Media Ubhara jaya)

]]>
Seminar Empat Pilar Kebangsaan di UBJ, Ketua MPR RI: Pancasila Adalah Pemersatu Bangsa https://ubharajaya.ac.id/seminar-empat-pilar-kebangsaan-di-ubj-ketua-mpr-ri-pancasila-adalah-pemersatu-bangsa/ Mon, 18 Dec 2017 08:12:46 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1690 Bekasi – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) menyelenggarakan seminar bertema Optimalisasi 4 Pilar Kebangsaan Dalam Rangka Mencegah Radikalisme dan Terorisme, Rabu, 13 Desember 2017, di Auditorium Ubhara Jaya, Kampus II Bekasi. Seminar ini bertujuan mencegah radikalisme di tanah air.

Seminar mendatangkan sederet cendikiawan dan akademisi seperti Dr. KH. As’ad Said Ali, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE, dan Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D., APU dari Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya. Hadir sebagai keynote speaker adalah Ketua MPR RI Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan, SE.,MM. Sementara moderator seminar adalah dosen tetap Ubhara Jaya Djuni Thamrin, M.Sc., Ph.D. Seminar dihadiri ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen dan civitas akademika di lingkungan Ubhara jaya.

Dalam sambutannya, Rektor Ubhara Jaya Irjen. Pol. (Purn) Drs. H. Bambang Karsono, SH., MM., menuturkan, penyelenggaraan seminar merupakan wujud komitmen Ubhara Jaya sebagai garda terdepan pengawal NKRI, Pancasila, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai upaya untuk mempertahankan keutuhan bangsa.

Dalam konteks pendidikan, Pada tahun 2016, sebuah hasil survey menyatakan 25 siswa dan 21 guru menyatakan Pancasila kurang relevan. Data statistik tersebut menjadi peringatan bahwa radikalisme tidak mengenal waktu dan tempat termasuk di dunia pendidikan. Sebab itu, diperlukan pemahaman agama yang selaras dengan empat pilar kebangsaan. “Empat Pilar bukan hanya hasil dari proses politik saja, namun merupakan suatu hasil dinamika keberagaman dalam konteks ke-Indonesiaan. Seminar ini diharapkan mampu menghadirkan semangat yang mampu menjadi bahan filosofi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Sebagai pembicara pertama, Dr. KH. As’ad Said Ali memaparkan, eksistensi Empat Pilar menghadapi tantangan berat. Gonjang-ganjing politik tanah air serta perlambatan ekonomi sangat memengaruhi generasi sekarang. “Radikalisme akarnya adalah sosial, ekonomi, dan politik,” imbuh beliau.

Untuk menangkal radikalisme perlu adanya suatu upaya yang perlu digencarkan salah satunya memperkuat pemahaman plurarisme sosiologis yang akan menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai agama yang dipeluk dan mengakui perbedaan aqidah dan praktek keagamaan.
“Diharapkan Kita bisa bekerja dalam humanisme kemanusiaan walaupun berbeda-beda, ini yang harus digencarkan agar bisa menghilangkan gerakan radikalisme. Pancasila melindungi agama dari tindakan penistaan yang merupakan hak kolektif,” papar Dr. KH. As’ad Said Ali.

Pembicara berikutnya, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE mengungkapkan radikalisme menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk para pemangku bidang pendidikan. “Dari berbagai penelitian, tentang akar-akar radikalisme disebutkan bahwa radikalisme sesungguhnya sangat kompleks tidak bisa hanya faktor tunggal,” terangnya. Radikalisme umumnya terkait faktor sosial ekonomi, kesenjangan dan perubahan dinamika politik yang pada akhirnya berimbas pada permasalahan di pendidikan. “Kian kompleks dengan menjamurnya sumber-sumber paham radikalisme yang mudah diakses dengan pelajar dan mahasiswa.” katanya.
Menurut Dr. Azyumardi Azra, penguatan pendidikan mutlak dilakukan, terutama pendidikan di keluarga yang merupakan fokus utama pendidikan. “Ayah tidak boleh lepas tangan, menyerahkan pendidikan kepada ibu. Ayah harus tetap memberikan pendidikan, contoh dan tauladan yang baik, serta mengawasi dengan seksama terhadap kegiatan anak,” katanya.
Sementara itu, Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D., APU., menunjuk penyebaran kabar-kabar hoax yang massif sebagai salah satu biang keladi maraknya paham radikalisme. Paham radikal yang mengancam persatuan bangsa kerap disebarkan melalui berita bohong di sejumlah media sosial. Untuk menangkal hal tersebut, masyarakat harus dilibatkan dalam gerakan melawan berita bohong.
Menurut Prof. Kikiek, demikian beliau biasa disapa, demokrasi mengandung makna yang luas, tidak sekadar hasil voting namun harus mempertahankan asas akuntabilitas, transparansi, dan tanggung jawab sosial. “Itu yang terjadi di media sosial, kita diguyur informasi ketika kita membukanya. Tapi tidak semua informasi itu benar.Dunia ini makin kompleks dan makin rumit dengan media sosial. Maka untuk menghindari merebaknya hoax hindari copy-paste berita yang tidak jelas,” katanya.
Sebagai penutup acara sekaligus keynote speaker, Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan, SE., MM., mengajak setiap elemen bangsa kembali menjahit kembali merah putih dengan memahami landasan filosofis Empat Pilar Kebangsaan yang telah dicanangkan 72 tahun yang lalu oleh pendiri republik. Hal tersebut kemudian diaplikasikan pada perilaku sehari-hari. Sebab, menurutnya Pancasila ialah perilaku.
“Pancasila adalah perilaku yang menyatukan kita semua, bukan yang mengotak-ngotakkan dan memecah belah. Dengan Pancasila pula kita bangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah, partai politik, politisi yang akhir-akhir ini kian menurun. “Sangat bahaya ketika masyarakat mau melakukan apa yang diinginkannya sendiri, sama halnya dengan menyatakan Islam itu radikal, wah saya tidak terima,” tegas Zulkifli Hasan.
Ia juga menyatakan, bahwa tidak ada jalan lain untuk bisa merajut kembali merah putih selain kembali pada Pancasila melalui perwujudan perilaku berbangsa dan bernegara. Pancasila yang sudah disepakati oleh seluruh rakyat Indonesia di masa lalu. “Mari kita luruskan kembali salah paham yang ada, yang kembali memperdebatkan Pancasila yang sudah final dan apabila kita memperdebatkan kembali maka itu jalan mundur,” tutupnya. (Tim Media Ubhara Jaya)

]]>