kesehatan mental – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Fri, 10 Oct 2025 10:08:06 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png kesehatan mental – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Peringati Hari Kesehatan Mental Sedunia, UBJ Gelar Edukasi pada Mahasiswa dan Dosen untuk Rawat Kesehatan Mental https://ubharajaya.ac.id/peringati-hari-kesehatan-mental-sedunia-ubj-gelar-edukasi-pada-mahasiswa-dan-dosen-untuk-rawat-kesehatan-mental/ Fri, 10 Oct 2025 10:08:05 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=16630 Bekasi – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) melalui Biro Kemahasiswaan dan Konseling menyelenggarakan Webinar Kesehatan Mental dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025. Webinar ini mengusung tema “Merawat Diri, Melatih Diri Menjadi Pribadi yang Tangguh,” dan diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (10/10/2025).

Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi pertama diikuti oleh mahasiswa dan sesi kedua diikuti oleh dosen pembimbing akademik UBJ sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan akademik. Acara webinar ini menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang psikologi, yakni Sarita Candra Merida, M.Psi., Psikolog, Ferdy Muzzamil, M.Psi., Psikolog, dan Lenny Utama, M.Psi., Psikolog, untuk narasumber pada sesi mahasiswa. Sedangkan untuk sesi dosen pembimbing akademik, yakni Dr. Mira Sekar Arumi, M.Psi., Psikolog. kegiatan ini merupakan salah satu langkah nyata UBJ dalam menciptakan ekosistem kampus yang sehat secara mental maupun emosional.

Baca Juga: Biro Kemahasiswaan Ubhara Jaya Gelar Webinar Bimbingan Konseling untuk Mahasiswa dan Dosen Pembimbing Akademik

Pada sesi paparan dengan mahasiswa, Ibu Sarita Candra Merida, M.Psi., Psikolog, memaparkan materi tentang “Mengenali & Memahami Diri.” Dalam paparan tersebut, beliau menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) sebagai dasar dalam menjaga kesehatan mental. Beliau juga menjelaskan bahwa konsep diri terbentuk dari bagaimana seseorang memandang dirinya dan bagaimana orang lain menilainya. Individu dengan kesadaran diri yang baik mampu mengenali kekuatan, kelemahan, serta emosinya, sehingga dapat mengendalikan diri dan meningkatkan harga diri. 

Berdasarkan berbagai penelitian, rendahnya kesadaran diri berpotensi menyebabkan individu tidak menyadari gejala gangguan psikologis seperti depresi atau kecemasan, sedangkan kesadaran diri yang tinggi mendukung keseimbangan psikologis dan ekspresi emosi yang tepat. Individu yang sehat mental ditandai dengan keharmonisan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, serta memiliki tujuan hidup yang jelas. Ibu Sarita juga mendorong peserta untuk mengenal diri melalui refleksi masa lalu, masa depan, dan kondisi saat ini, serta melakukan analisis kekuatan dan kelemahan diri agar mampu menetapkan strategi pengembangan pribadi secara berkelanjutan.

Selanjutnya, Bapak Ferdy Muzzamil, M.Psi., Psikolog, memaparkan materi mengenai “Self Care: Ku Rawat Diri & Hidupku.” Pada paparannya, beliau menyoroti pentingnya perawatan diri sebagai upaya menjaga keseimbangan mental dan emosional di tengah tekanan hidup. Ia menjelaskan bahwa stres merupakan reaksi alami terhadap perubahan dan tantangan, yang bisa bersifat positif (eustress) bila mendorong motivasi, namun dapat menjadi negatif (distress) bila tidak terkelola dengan baik dan menimbulkan gangguan fisik maupun psikologis. Berbagai penyebab stres mencakup tekanan kerja, masalah keuangan, konflik hubungan, kesehatan, serta kurangnya dukungan sosial. 

Oleh karena itu, self care menjadi strategi penting untuk mengelola stres dan menjaga energi positif, yang dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana seperti makan sehat, olahraga, istirahat cukup, bersyukur, dan menikmati waktu pribadi. Dengan mengenali emosi dan suasana hati, seseorang akan lebih memahami dirinya serta mampu berinteraksi secara sehat dengan orang lain, sehingga kualitas hidup meningkat dan kesehatan mental lebih terjaga.

Berikutnya, Ibu Lenny Utama, M.Psi., Psikolog, menjelaskan materi tentang “Trauma: Menerima Luka sebagai Perjalanan Diri.” Beliau membahas tentang bagaimana seseorang dapat menerima luka batin dan trauma sebagai bagian dari proses pertumbuhan diri. Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa trauma bukan hal yang rasional karena bekerja pada sistem emosi, dan dibagi menjadi tiga jenis: trauma tipe 1 (kejadian tunggal seperti kecelakaan atau kekerasan), trauma tipe 2 (kejadian berulang seperti bullying atau kekerasan verbal dan fisik), serta trauma sekunder (dampak emosional akibat menyaksikan penderitaan orang lain). 

Beliau juga menekankan bahwa menghadapi trauma memerlukan kesadaran dan penerimaan, bukan penyangkalan. Beliau pun turut mengenalkan beberapa teknik pengolahan trauma seperti grounding, emotional freedom technique, safe place, container box, butterfly hugs, dan acceptance therapy yang membantu individu mengelola emosi secara sehat. Menurutnya, luka tidak benar-benar hilang, tetapi akan mengecil seiring pertumbuhan diri, dan seseorang perlu belajar hidup berdampingan dengan luka tanpa membencinya.

Memasuki sesi kedua paparan dengan para dosen pembimbing akademik, Dr. Mira Sekar Arumi, M.Psi., Psikolog, memaparkan materi mengenai “Workplace Resilience in Academic Setting.” Pada paparan tersebut, Dr. Mira menyoroti pentingnya ketangguhan (resilience) di lingkungan akademik yang penuh tekanan psikososial. Beliau menjelaskan bahwa meningkatnya beban kerja, tanggung jawab administratif, dan ekspektasi tinggi menyebabkan kelelahan emosional serta risiko gangguan mental di kalangan dosen dan tenaga pendidik. Menurut beliau, resilience bukanlah sifat bawaan, melainkan proses dinamis untuk belajar, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan. Melalui Psychological Immunity–Elasticity Model, Dr. Mira menggambarkan bagaimana pola pikir positif dan kemampuan merefleksikan pengalaman dapat memperkuat daya lenting seseorang. 

Baca Juga: Fikom UBJ Gelar Kuliah Pakar Komunikasi Kebencanaan, Bahas Strategi Komunikasi Efektif dalam Situasi Darurat

Dr. Mira juga menekankan pentingnya membangun narasi konstruktif melalui proses assimilation dan accommodation agar individu dapat tumbuh dari pengalaman sulit, bukan terperangkap di dalamnya. Beliau pun mengingatkan bahaya toxic positivity serta pentingnya keseimbangan antara dorongan kerja dan pemulihan diri. Di akhir sesi, Dr. Mira menegaskan bahwa resiliensi bukan sekadar “bouncing back” dari kesulitan, melainkan “bouncing forward” untuk menjadi lebih kuat, bijak, dan penuh empati dalam menghadapi tantangan dunia akademik.

Selain mendapatkan wawasan teoritis, para peserta juga diajak untuk melakukan refleksi diri serta berbagi pengalaman seputar tantangan dalam menjaga kesehatan mental. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dan interaksi selama kegiatan berlangsung.

Melalui peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, UBJ menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kesadaran pentingnya perawatan diri dan kesehatan mental, terutama di kalangan sivitas akademika. Dengan semangat “Merawat Diri, Melatih Diri Menjadi Pribadi yang Tangguh,” diharapkan para sivitas akademika UBJ dapat membangun ketahanan diri, saling peduli, dan tumbuh bersama sebagai pribadi yang sehat secara fisik dan mental. Kegiatan ini juga merupakan implementasi dari visi UBJ, yakni berperilaku baik

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas UBJ: +62 878-4162-4810

]]>
Bahas Kesehatan Mental, Silaturahmi Istri Pegawai Ubhara Jaya Hadirkan Narasumber Psikolog https://ubharajaya.ac.id/bahas-kesehatan-mental-silaturahmi-istri-pegawai-ubhara-jaya-hadirkan-narasumber-psikolog/ Thu, 17 Apr 2025 09:10:25 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=15277 Bekasi – Istri pegawai universitas Bhayangkara Jakarta Raya melangsungkan kegiatan silaturahmi, di Kampus II Bekasi, Kamis (17/4/2025). Kegiatan ini menghadirkan psikolog klinis, Sarita Chandra Merida, S.Psi, M.Psi , Psikolog dengan materi tentang “Membangun Kesadaran terhadap Pentingnya Kesehatan Mental”.

Ketua Pelaksana kegiatan, Ibu Bambang Karsono mengatakan, silaturahmi kali ini masih dengan nuansa halal bihalal. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Bambang juga mengucapkan syukur dan terima kasih atas dukungan para pegawai sehingga Ubhara Jaya bisa meraih Akreditasi Unggul.

“Terima kasih berkat doa dan kerja ibu-ibu pejabat semua, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya mendapat predikat Unggul,” katanya.

Kepada para undangan, Ibu Bambang pun berpesan agar terus menjaga kesehatan. Selain kesehatan fisik, juga dibutuhkan kesehatan mental. Sehingga dalam kegiatan tersebut menghadirkan dosen sekaligus psikolog klinis di Klinik Pratama Ubhara Jaya. 

Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental, Tim Ubhara Jaya Sosialisasikan Bijak Bermedia Sosial untuk Remaja

Sementara itu, diawal paparannya, Meri menjelaskan jika kesehatan mental ini kondisi dimana individu mampu mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan yang dimiliki, mampu belajar dan bekerja baik serta berkontribusi terhadap masyarakat.

“Pengertian lainnya yakni kesejahteraan yang mencakup aspek kognitif, perilaku, emosional, sosial dan psikologis,” ucapnya.

Meri juga memberikan sejumlah contoh bagaimana orang secara mandiri untuk mengenali kesehatan mentalnya masing-masing. Disebutkan jika sehat mental ini menyentuh aspek pikiran, perasaan, perilaku dan reaksi fisik.

Indikatornya yakni emosi yang positif, keterlibatan dengan lingkungan, memiliki hubungan positif dengan orang lain, memiliki tujuan, adanya penerimaan diri, dan akhirnya berujung pada kepuasan hidup.

“Misalnya ibu-ibu datang ke acara arisan ini kan punya tujuan, mau silaturahmi dengan teman, atau menang arisan ya,” katanya.

Baca Juga: Fakultas Psikologi Ubhara Jaya Adakan Pelatihan “Fundamental Coaching Skill” untuk Tingkatkan Kualitas SDM

Meri juga menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mental. Pertama ada individu yang mencakup fisik, biologis, psikologis dan pengalaman traumatis. Kemudian kedua keluarga seperti dukungan orang tua, pola asuh, dinamika keluarga dan kondisi ekonomi keluarga. Ketiga media sosial, lingkungan fisik sekitar, akses ke layanan kesehatan mental.

“Siapa di sini yang suka lihat media sosial kemudian suka bandingin dengan orang lain. Misalnya, ko si itu dibelikan barang sama suami, ko si itu punya itu,” ucapnya.

Agar kesehatan mental ini terjaga, dijabarkan tentang pentingnya dukungan sosial seperti dukungan emosional, penghargaan, instrumental dan informasi. Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab.

Ibu Bambang Karsono dan pemateri Sarita Chandra Merida, S.Psi, M.Psi , Psikolog.  

Kegiatan ini pun ditutup dengan pemberian tali kasih oleh Ibu Bambang Karsono kepada pemateri Sarita Chandra Merida, S.Psi, M.Psi , Psikolog.  

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental, Tim Ubhara Jaya Sosialisasikan Bijak Bermedia Sosial untuk Remaja https://ubharajaya.ac.id/pentingnya-menjaga-kesehatan-mental-tim-ubhara-jaya-sosialisasikan-bijak-bermedia-sosial-untuk-remaja/ Wed, 22 Jan 2025 03:25:49 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=14133 Bekasi – Dosen dari Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Bhayangkara Jakarta dan timnya melaksanakan pengabdian masyarakat (PKM) dengan memberikan materi “Bijak Bermedia Sosial untuk Stabilitas Kesehatan Mental”. Sasaran kegiatan ini yakni pelajar MAN 1 Kota Bekasi.

Kegiatan PKM yang telah dipublikasi dosen Syahrul Hidayanto, S.Sos., M.Si, Annisa Eka Syafrina dan Imaddudin di Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan ISSN (Online): 21008-3407 DOI: 10.59818/jpm.v4i4.769 Vol. 4, No. 4, Juli 2024. Jurnal ini bisa diakses di link https://jurnal.penerbitwidina.com/index.php/JPMWidina/article/view/769.

Disebutkan, PKM diikuti oleh 40 siswa MAN 1 Kota Bekasi ini bertujuan memberikan pemahaman tentang pentingnya penggunaan media sosial yang cakap dan tepat guna sesuai kebutuhan. Syahrul Hidayanto yang juga ketua pelaksana kegiatan tersebut menekankan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak agar tidak mengganggu kesehatan mental. Setelah itu, materi disampaikan oleh dua narasumber yakni Annisa Eka Syafrina, S.I.Kom, M.Si, dan Imaddudin, M.I.Kom, S.I.Kom, M.Tr.Par. 

Baca Juga: Mahasiswa Hukum Ubhara Jaya Edukasi Siswa SMK di Babelan tentang Bahaya Narkoba

Annisa Eka Syafrina membuka sesi dengan membahas urgensi penggunaan gawai dan dampak negatif fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang sering dipicu oleh media sosial. Beliau juga memberikan solusi untuk mengubah FOMO menjadi Joy of Missing Out (JOMO) melalui pembatasan penggunaan media sosial dan penetapan tujuan yang jelas.

Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Sementara itu, Imaddudin, melanjutkan dengan memaparkan dampak media sosial terhadap kesehatan mental berdasarkan survei dari Royal Society of Public Health (RSPH), London. Dia menjelaskan bahwa media sosial dapat memicu depresi, kecemasan, dan fenomena cyberbullying di kalangan remaja. 

Imaddudin juga memberikan solusi, seperti menggunakan fitur peringatan waktu penggunaan media sosial dan memperbanyak interaksi sosial di dunia nyata. Dengan diadakannya pelatihan ini, diharapkan para peserta lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan mampu menjaga stabilitas kesehatan mental mereka. 

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
KKN Tematik Mahasiswa Ubhara Jaya Dapat Respons Positif Warga Babelan https://ubharajaya.ac.id/kkn-tematik-mahasiswa-ubhara-jaya-dapat-respons-positif-warga-babelan/ Fri, 29 Nov 2024 08:00:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=13732 Bekasi – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) mendapatkan respons positif dari warga. Reaksi ini datang dari warga di lokasi KKN di Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar). 

Yani, warga Kampung Pulo Asem, RT 06/RW 05, Desa Babelan Kota mengatakan, program psikoedukasi kesejahteraan psikologis kepada ibu rumah tangga (IRT) di wilayahnya sangat terasa. Apalagi sebagai IRT, dia sebelumnya tidak banyak mengetahui tentang bagaimana mengelola emosi.

“Kita jadi lebih tahu, lebih sadar sama masalah-masalah mental, sama masalah-masalah psikologi,” kata Yani.

Baca Juga: KKN Tematik Mahasiswa Psikologi Ubhara Jaya: Edukasi Ibu-Ibu Kelola Emosi hingga Manajemen Stres

Dia juga berharap bahwa kegiatan serupa bisa digelar kembali untuk membantu IRT di wilayahnya. Apalagi kegiatan mahasiswa ini benar-benar dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

“Kita nggak banyak berharap cuma kalau ada lagi (kegiatan KKN)  ya alhamdulillah,” ujarnya.

Dosen Pembimbing KKN Tematik, Yulia Fitriani, S. Psi., M.A mengatakan, KKN Tematik di Fakultas Psikologi Ubhara Jaya dirancang secara sistematis untuk mendukung visi dan misi universitas, fakultas, serta program studi. Roadmap ini dibuat untuk memastikan kegiatan mahasiswa sesuai dengan tujuan utama pendidikan. Dalam hal ini, KKN Tematik mengacu pada roadmap pengabdian masyarakat. 

“KKN Tematik kami mengikuti panduan yang sudah ada. Tema besar ditentukan oleh fakultas, namun setiap kelompok mahasiswa dapat menyesuaikan judul kegiatan mereka dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Yulia. 

“Kalau di psikologi itu kaitannya dengan keamanan psikologis nah salah satunya yang masuk itu ya kesehatan mental itu,” katanya lagi.

Baca Juga: Mahasiswa Prodi PKO Ubhara Jaya Laksanakan KKN Tematik di Kelurahan Marga Mulya

Ditanya soal lokasi KKN Tematik, Yulia menuturkan penentuan utamanya merupakan desa binaan. Namun, keputusannya tersebut merupakan kolaborasi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan mahasiswa.

“Lokasi KKN diusahakan berada di desa binaan yang sudah bekerja sama dengan Fakultas Psikologi. Namun, penentuan desa lokasi KKNT juga dapat disepakati antara DPL dan mahasiswa,” tambahnya.

Sebelumnya, sebanyak delapan mahasiswa Putri Anggraini (202110515051), Pingkan Visionari P (202110515130),  Ivan Fahrozi (202110515142), Lani Pranesti (202110515084),  Moch. Al Irsyad (201910515327), Uhamad Ryan F (202010515135) Muhamad Bathi Z (202110515002) Ahmad Nouva K (202110515039) dari Fakultas Psikologi melaksanakan KKN Tematik dengan tema Pemberdayaan Masyarakat untuk Peningkatan Kualitas Hidup di Kampung Pulo Asem, RT 06/05, Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. 

Tim Media dan Publikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
KKN Tematik Mahasiswa Psikologi Ubhara Jaya: Edukasi Ibu-Ibu Kelola Emosi hingga Manajemen Stres https://ubharajaya.ac.id/kkn-tematik-mahasiswa-psikologi-ubhara-jaya-edukasi-ibu-ibu-kelola-emosi-hingga-manajemen-stres/ Tue, 26 Nov 2024 09:15:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=13685 Bekasi – Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) fokus pada Pemberdayaan Masyarakat untuk Peningkatan Kualitas Hidup. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kampung Pulo Asem, RT 06/RW 05, Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Ketua KKNT, Putri Anggraini mengatakan tema ini diambil karena peningkatan kualitas hidup merupakan suatu hal yang penting. Salah satunya melalui psikoedukasi kesejahteraan psikologis kepada ibu rumah tangga (IRT).

Ditanya soal pemilihan lokasi, Purti menuturkan jika Kampung Pulo Asem, Babelan ini tergolong wilayah yang jauh dari perkotaan. Sehingga informasi tentang kesehatan mental hal yang belum terjangkau di lokasi tersebut. Pertimbangan lainnya juga dari pretest yang dilakukan mencatat jika banyak IRT di desa tersebut yang belum mengetahui soal kesehatan mental.

Baca Juga: Mengenal KKN Tematik dan KKN Reguler dari Perbedaan, Tujuan dan Manfaatnya

“Hal ini pun didukung oleh hasil pretest yang kami berikan pada masyarakat terkait kesehatan mental seperti manajemen stres dan parenting. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui atau paham terkait kesehatan mental,” ucapnya.

Sementara itu, sekretaris KKNT Ivan Fahrozi menambahkan kegiatan ini menargetkan IRT di rentan usia 40-50 tahun. Dari kegiatan yang sudah berjalan kurang lebih tiga minggu ini, didapati IRT yang mengaku stress mengurus anak dan mengatur keuangan rumah tangga.

“Mereka rata-rata ngaku stress mengurus rumah, anak dan rata-rata perekonomian,” ujarnya.

KKN Tematik Mahasiswa Psikologi Ubhara Jaya: Edukasi Ibu-Ibu Kelola Emosi hingga Manajemen Stres (Foto: Dok Mahasiswa Ubhara Jaya)

Program edukasi kepada IRT ini pun diharapkan tingkat stress bisa dikelola sehingga tidak berdampak pada tumbuh kembang anak. Ivan menuturkan, adapun kesulitan di lapangan selain lokasi yang jauh juga adanya beberapa IRT yang anaknya kerap rewel saat sosialisasi atau masih enggan terbuka dengan masalahnya.

Baca Juga: Mahasiswa Prodi PKO Ubhara Jaya Laksanakan KKN Tematik di Kelurahan Marga Mulya

“Kesulitan ada seperti ibu-ibu yang membawa anak, dan anaknya rewel. Terus ibu-ibu di sini mayoritas masih awam dengan pembahasan psikologis. Akhirnya kita memakai komunikasi dan menjelaskan dengan sangat sederhana. Ngasih contoh yang relate sama ibu-ibunya,” ucapnya.

Pelaksanaan KKN Tematik ini bukti jika Ubhara Jaya ikut melaksanakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Di mana program KKN ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa di tengah masyarakat.

Tim Media dan Publikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Strategi Kelola Stress Saat UTS: Hindari Belajar Sistem Kebut Semalam dan Jaga Kesehatan Mental https://ubharajaya.ac.id/strategi-kelola-stress-saat-uts-hindari-belajar-sistem-kebut-semalam-dan-jaga-kesehatan-mental/ Wed, 13 Nov 2024 05:40:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=13577 Bekasi – Ujian Tengah Semester (UTS) seringkali memicu kecemasan pada mahasiswa, terutama mereka yang memilih metode belajar sistem kebut semalam (SKS). Mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) lebih baik menghindar metode belajar SKS agar terhindar dari stres.

Penelitian dari University of California, Los Angeles, yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development, menemukan bahwa mengurangi waktu tidur demi belajar intensif akan menurunkan kinerja otak. Kekurangan tidur berdampak buruk pada memori, kemampuan konsentrasi, dan kesehatan secara keseluruhan.

Psikolog Klinis sekaligus dosen Ubhara Jaya, Candra Merida, M.Psi., menjelaskan bahwa belajar SKS sebenarnya bukan strategi yang efektif. 

Baca Juga: Selain Administrasi, Ini yang Perlu Disiapkan Mahasiswa Jelang Ujian Tengah Semester

“Begadang dan kurang tidur mengakibatkan fisik lelah, membuat daya tahan tubuh menurun. Mahasiswa yang begadang bisa mengantuk saat ujian dan akhirnya tidak optimal dalam mengerjakan soal,” jelasnya.

Stres menjadi dampak serius lainnya dari sistem belajar ini. Ketika waktu terasa semakin mendesak, kecemasan meningkat karena merasa belum cukup menguasai materi. 

“Ketika buru-buru, fokus bergeser dari memahami materi menjadi sekadar menyelesaikan tugas,” tambah Candra.

Baca Juga: Pengumuman Tata Tertib Pelaksanaan Ujian Tengah Semester Ganjil TA. 2024/2024

Untuk mengelola stres selama UTS, Candra menyarankan mahasiswa agar menghindari SKS. Sebaiknya, mulai persiapan sejak awal, memahami materi sedikit demi sedikit sebelum ujian dimulai. Ini membantu menjaga ketenangan, mengurangi kecemasan, dan mencegah perilaku seperti menyontek yang muncul akibat panik.

Mengelola stres saat UTS bukan hanya soal belajar lebih awal tetapi juga merawat diri secara fisik dan mental agar siap menghadapi ujian dengan lebih tenang dan percaya diri.

Tim Media dan Publikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta

]]>