penulisan karya ilmiah – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Mon, 09 Dec 2024 03:59:12 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png penulisan karya ilmiah – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Etika Penulisan Karya Ilmiah yang Wajib Diketahui Mahasiswa https://ubharajaya.ac.id/etika-penulisan-karya-ilmiah-yang-wajib-diketahui-mahasiswa/ Mon, 09 Dec 2024 03:59:12 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=13791 Bekasi – Etika penulisan karya ilmiah sangat penting untuk ditaati para penulis. Bagi mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) tentunya hal ini juga menjadi hal yang wajib diikuti.

Prof Dr. Juneman, S.Psi., M.Si saat menjadi pembicara di agenda Academic Writing Fakultas Psikologi Ubhara Jaya mengatakan, pentingnya menjaga integritas dalam penelitian, terutama terkait manipulasi data. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak tergoda mengubah data demi mendapatkan hasil sesuai hipotesis. Semua ketetapan tersebut merupakan bagian dari etika penulisan karya ilmiah.

“Saudara jangan lakukan itu ya, karena itu menipu diri sendiri. Kalau menambah data silakan menambah subjek, tapi jangan mengubah data. Ingat ini bagian dari etika penelitian,” ucapnya di Auditorium Ubhara Jaya, Kampus II Bekasi, Jumat (6/12/2024).

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Penulisan, Fakultas Psikologi Ubhara Jaya Gelar Academic Writing

Soal etika penelitian lainnya Guru Besar Bidang Psikologi Sosial Universitas Bina Nusantara (Binus) Prof. Juneman juga membahas penggunaan teknologi AI seperti ChatGPT. Menurutnya, mahasiswa perlu jujur dalam mencantumkan penggunaan ChatGPT di skripsi.

“Bagaimana cara saya mengakui kalau memakai ChatGPT? Ya ditulis di skripsinya. Jadi lembar pengakuan ChatGPT. Saya juga tahunya belum mainstream, tapi ini saya kampanyekan terus,” katanya.

Dilansir dari Modul Pelatihan Teknik Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemendikbud menyebutkan seorang penulis mempunyai kode etik dalam menulis agar: 

(1) Melahirkan karya orisinal, bukan jiplakan; 

(2) Sebagai orang terpelajar, mestinya menjaga kebenaran dan manfaat serta makna informasi yang disebarkan sehingga tidak menyesatkan;

(3) Menulis secara cermat, teliti, dan tepat,; dan 

Baca Juga: Mengupas Manfaat Artificial Intelligence Dalam Penulisan Karya Ilmiah

(4) Bertanggung jawab secara akademis atas tulisannya.Memberi manfaat kepada masyarakat pengguna; 

(5) Dalam kaitan dengan berkala ilmiah, menjadi kewajiban bagi penulis untuk mengikuti selingkung yang ditetapkan berkala yang dituju; 

(6) Menerima saran-saran perbaikan dari editor berkala yang dituju; 

(7) Menjunjung tinggi hak, pendapat atau temuan orang lain; 

(8) Menyadari sepenuhnya untuk tidak melakukan pelanggaran ilmiah.

Adapun pelanggaran itu di antaranya adalah falsifikasi, fabrikasi, dan plagiarisme. Fabrikasi data adalah ‘mempabrik’ data atau membuat-buat data yang sebenarnya tidak ada atau lebih umumnya membuat data fiktif. Falsifikasi data bisa berarti mengubah data sesuai dengan keinginan, terutama agar sesuai dengan simpulan yang ‘ingin’ diambil dari sebuah penelitian. Sedangkan plagiarisme ialah mengambil kata-kata atau kalimat atau teks orang lain tanpa memberikan acknowledgment (dalam bentuk sitasi) yang secukupnya.

Tim Media dan Publikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

]]>
Tips Dan Trik Strategi Publish di Jurnal Bereputasi dari Guru Besar Ubhara Jaya https://ubharajaya.ac.id/tips-dan-trik-strategi-publish-di-jurnal-bereputasi-dari-guru-besar-ubhara-jaya/ Sat, 30 Mar 2024 11:26:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=10025 Bekasi – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Prof. Dr. Ir. Hapzi, MM., CMA, MPM membeberkan tips dan trik strategi publish di jurnal bereputasi di acara webinar, Sabtu (30/3/2024). Kegiatan ini merupakan seri akhir menjelang pelaksanaan Bhayangkara Multidisciplinary International Conference (BMIC) 2024.

Dalam paparannya, prof Hapzi menjelaskan, ada tiga tahapan proses penerbitan artikel. Yang pertama submission, review dan copy editing dan production. 

Profesor yang masuk daftar 10 ilmuwan terbaik di Indonesia ini juga menjabarkan. Sebelum menulis jurnal langkah pertama yakni memilih publisher terbaik di dunia.

“Pastikan jurnal itu terbit di-publisher terbaik di dunia. Ternyata publisher terbaik di dunia itu bukan dari kampus seperti elsevier itu bukan dari kampus tapi dia lembaga di dunia,” katanya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Prof. Dr. Ir. Hapzi, MM., CMA, MPM

Dia juga menyarankan peneliti harus memastikan jurnal yang dibuatkan sesuai bidang ilmunya. Selanjutnya, penulis diminta mengecek volume jurnal yang sudah publish. Normalnya setiap tahun ada enam jurnal.

“Tolong cek volume jurnal dan paper isunya. Jurnal itu ada volumenya, nomornya ada isunya. Normalnya jurnal itu enam kali dalam setahun publisher. Jadi kalau ada jurnal yang publish 10 kali 20 kali dalam setahun itu tidak normal,” papar Prof Hapzi.

Kemudian langkah selanjutnya, peneliti harus mengecek paper atau nomor isu yang akan publish. Prof Hapzi menjelaskan, biasanya ada 50 nomor atau isu. Jika lebih dari itu dianggap kurang wajar. Tak kalah pentingnya, penulis juga harus memastikan jika materi jurnalnya tidak memuat spesial isu.

“Tidak ada spesial isu, kalau di scopus itu tidak ada spesial isu di jurnal. Jurnal yang baik itu tidak ada spesial isunya, maksimal publishnya adalah 6 kali,” katanya.

Tips selanjutnya, penulis harus konsisten dalam mempublish jurnalnya. Prof Hapzi juga mengingatkan agar penulis memeriksa jurnal itu on going di scopus. 

“Konsisten publishnya, misalnya tahun 2022 4 kali, tahun 2023 4 kali itu konsisten,” katanya.

]]>
Mengupas Manfaat Artificial Intelligence Dalam Penulisan Karya Ilmiah https://ubharajaya.ac.id/mengupas-manfaat-artificial-intelligence-dalam-penulisan-karya-ilmiah/ Sat, 23 Mar 2024 12:00:00 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=10020 Bekasi – Menuju kegiatan Bhayangkara Multidisciplinary International Conference (BMIC) 2024 (BMIC) 2024, panitia menyelenggarakan webinar series 4, Sabtu (23/3/2024). Kali ini topik yang dibahas yakni “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Mendukung Karya Ilmiah”. 

Pembicara materi Dekan Fakultas Psikologi dan Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat & Publikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), Prof. Adi Fahrudin, Ph.D. Dalam materinya, Prof Adi menjelaskan, saat ini tanpa sadar sudah banyak peneliti yang memanfaatkan AI. Setidaknya ada tiga manfaatkan AI untuk karya ilmiah.

Pertama untuk meningkatkan produktivitas penulisan karya ilmiah. Kedua meningkatkan akurasi dan ketiga meningkatkan kreativitas.

“Ada beberapa Artificial Intelligence tools yang membantu editing, meningkatkan kualitas dan akurasi penulisan akademik untuk mengkurasi mistake atau error apalagi kalau dalam penulisan dalam bahasa Inggris,” katanya.

Prof Adi pun menjabarkan sejumlah Artificial Intelligence yang populer digunakan. Rinciannya yakni, Scite Assistant, Consensus, Elicit, ChatGPT, Chat PDF, Research Rabbit dan Sci.Space. Namun, Prof Adi juga mengingatkan bahwa penggunaan Artificial Intelligence juga memiliki persoalan salah satunya menyebabkan peneliti masalah berpikir kritis.

Dekan Fakultas Psikologi dan Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat & Publikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), Prof. Adi Fahrudin, Ph.D

“Alat ini kadang-kadang menyebabkan orang malas berpikir, akibatnya apa, jadinya skill writingnya enggak ada. Ini menyebabkan orang malas melakukan critical thinking,” katanya.

Tak hanya itu Artificial Intelligence dengan fasilitas lengkap tentu harganya tidak murah. Beberapa yang ditampilkan saat ini di google sifatnya masih gratis.

Baca Juga: Sosok Mahasiswa Berprestasi Ubhara Jaya Amanda La Loupatty, Atlet Kickboxing Peraih Emas Di SEA Games 2021

“Yang kedua, Artificial Intelligence ini harganya tidak murah jadi yang ada tampil di google itu yang free kita bisa gunakan free. Tapi yang free ini hanya penggalan-penggalan kecil kita tidak bisa mendapatkan banyak hal,” ucapnya.

Disinggung terkait penelusuran karya ilmiah dari Artificial Intelligence, Prof Adi menilai harus ada teknologi lagi untuk pelacakan.

“Cara termudah itu kita harus menggunakan AI lagi. AI dilawan dengan AI. Jadi kalau misalnya kita menggunakan Scite Assistant maka kita harus paraphrase tools,” jelasnya.

]]>