Puskamnas – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id Mon, 29 Sep 2025 12:09:57 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://ubharajaya.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/cropped-android-chrome-256x256-1-32x32.png Puskamnas – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya https://ubharajaya.ac.id 32 32 Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Brown Bag Discussion Series ke-2: Kesadaran Bela Negara di Era Digital https://ubharajaya.ac.id/pusat-kajian-bela-negara-ubj-gelar-brown-bag-discussion-series-ke-2-kesadaran-bela-negara-di-era-digital/ Mon, 29 Sep 2025 12:09:57 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=16554 Bekasi – Pusat Kajian Bela Negara (Puskaben) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) kembali menyelenggarakan kegiatan akademik bertajuk Brown Bag Discussion Series yang kedua. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis (25/09/2025) di Ruang Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas), Grha Summarecon, dan dihadiri oleh perwakilan dosen dari tujuh fakultas UBJ.

Diskusi kali ini mengangkat tema “Kesadaran Bela Negara di Era Digital: Konteks Bela Negara dalam Perspektif Hukum, Pendidikan, Komputer, Psikologi, Ekonomi, dan Bisnis Komunikasi serta Teknik.” Brown Bag Discussion merupakan forum akademik santai namun bermakna, yang meniru tradisi diskusi ilmiah di sejumlah perguruan tinggi di Eropa dan Amerika. Tema kesadaran bela negara dipilih sebagai kelanjutan dari diskusi sebelumnya, yang menyoroti tantangan era digital, khususnya terkait disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK). 

Baca Juga: Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Diskusi Brown Bag Series Bahas Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital

Pada forum sebelumnya di tanggal (25/08/2025), terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar adalah ketika oknum perwakilan pemerintah justru menyalahgunakan kewenangan digital yang dimilikinya. Situasi tersebut dinilai semakin relevan dengan kondisi terkini, mulai dari demonstrasi hingga aksi penjarahan yang terjadi pada akhir Agustus lalu. Sebagai sivitas akademika, UBJ merasa perlu mengangkat isu ini menjadi mimbar diskusi akademik. 

Menurut Puskaben, konsep bela negara seharusnya berfungsi untuk mencegah meluasnya penyalahgunaan data digital dan memastikan agar aparat atau perwakilan pemerintah tidak terlibat dalam tindakan sewenang-wenang, termasuk dalam praktik perjudian online (judol) maupun bentuk penyalahgunaan digital lainnya.

Diskusi kali ini menghadirkan dua narasumber utama. Pertama, I-KHub Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prakoso Permono, S.Sos., M.Si, yang membahas persoalan penyalahgunaan digital dalam perspektif sosial dan kebijakan. Kedua, Ketua Apsifor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Nathanael E.J. Sumampouw, M.Psi., M.Sc., Ph.D., Psikolog, yang hadir secara daring memaparkan kondisi psikologis masyarakat dalam menghadapi era digital serta bentuk kesadaran bela negara yang perlu dikembangkan.

Melalui dua perspektif tersebut, forum ini membedah dua dimensi penting, yaitu bentuk penyalahgunaan digital yang mengancam kesadaran berbangsa dan bernegara, serta strategi penguatan kesadaran bela negara dari sisi psikologi masyarakat. Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari perwakilan tujuh fakultas UBJ, yang memberikan beragam sudut pandang sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Baca Juga: Jadi Kekhasan Ubhara Jaya, Sekolah Kamnas Kembali Dibuka

Kegiatan Brown Bag Discussion Series ini diharapkan mampu menjadi ruang konsolidasi gagasan akademik lintas disiplin di UBJ, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kesadaran bela negara yang relevan dengan tantangan era digital. Diskusi ini juga merupakan implementasi dari visi UBJ, yaitu berwawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti serta mendukung poin dua dari Asta Cita, Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas UBJ: +62 878-4162-4810

]]>
Pusat Kajian Bela Negara UBJ Gelar Diskusi Brown Bag Series Bahas Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital https://ubharajaya.ac.id/pusat-kajian-bela-negara-ubj-gelar-diskusi-brown-bag-series-bahas-resiliensi-dan-keamanan-manusia-di-era-digital/ Mon, 25 Aug 2025 08:44:10 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=16184 Bekasi – Pusat Kajian Bela Negara (Puska BN) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) menyelenggarakan diskusi akademik bertajuk Brown Bag Discussion Series dengan tema “Resiliensi dan Keamanan Manusia di Era Digital: Konteks Bela Negara dalam Perspektif Hukum, Pendidikan, Komputer, Psikologi, Ekonomi dan Bisnis, Komunikasi serta Teknik.” Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (21/08/2025) di Ruang Puskamnas, Grha Summarecon, Kampus II UBJ.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam format Forum Group Discussion (FGD), dengan melibatkan akademisi, praktisi, regulator, serta dosen lintas fakultas di UBJ. Subtema yang diangkat mencakup perlindungan data pribadi, literasi digital, ketahanan siber, dampak digitalisasi terhadap kesehatan mental, keamanan ekonomi digital, serta strategi komunikasi menghadapi disinformasi dan hoaks. Diskusi ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengkaji peran resiliensi digital dalam memperkuat konsep bela negara berbasis keamanan manusia. Melalui perspektif lintas ilmu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menggali berbagai strategi menghadapi tantangan di era digital sekaligus menyusun rekomendasi kebijakan interdisipliner.

Baca Juga: Prof. Hermawan Sulistyo Rayakan Ulang Tahun ke-68 Sekaligus Rilis Buku Terbaru

Turut hadir juga Mayor Jenderal TNI (Purn) M. Noor Aman (Gubernur Akademi Militer periode 2000 – 2001), Abdul Charis, M.Adm (Sekber RAN BE BNPT), dan Sulaiman Sujono (dari United Nations Office on Drugs and Crime) sebagai narasumber. 

Sekretaris Pusat Kajian Bela Negara UBJ, Indah Pangestu Amaritasari, S.IP., MA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Brown Bag Discussion merupakan ruang akademik yang diharapkan mampu memunculkan dialog interaktif lintas disiplin keilmuan.

“Harapan diskusi ini terjadi dialog antara pemapar dan peserta dalam memetakan serta menyikapi persoalan khususnya di era digital. Bela negara pada era yang berubah, dimana ada konteks keamanan manusia dan digitalisasi, dapat dimaknai secara proporsional. Hasil diskusi kita nantinya diharapkan bermanfaat sebagai bahan penyusunan buku monograf dan pengembangan kajian bela negara,” ujarnya.

Masuk ke inti kegiatan, Mayor Jenderal TNI (Purn) M. Noor Aman, menekankan bahwa ketahanan nasional merupakan instrumen kekuatan negara yang dirumuskan dalam konsep Asta Gatra, dengan bela negara sebagai implementasi praktisnya. Ia menyoroti pergeseran ancaman dari fisik ke non-fisik, termasuk hoaks, disinformasi, dan serangan siber, serta perlunya pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) untuk kepentingan pertahanan. Abdul Charis, M.Adm (Sekber RAN BE BNPT) menambahkan bahwa potensi radikalisme di kalangan pemuda meningkat akibat kebebasan akses informasi digital. Ia menilai bahwa kebijakan bela negara masih kaku, minim inovasi, dan terlalu birokratis sehingga tidak menjawab tantangan era digital. Potensi keterlibatan akademisi bisa mendalami konteks bela negara di era digital melalui berbagai penelitian, kajian, dan lain lain.

Baca Juga: Jadi Kekhasan Ubhara Jaya, Sekolah Kamnas Kembali Dibuka

Pada sesi diskusi dari perspektif akademik, Dr. Lusia Sulastri, S.H., M.H, (Dosen FH UBJ) menekankan pentingnya kesadaran publik terkait perlindungan data pribadi yang masih rendah meski regulasi sudah ada. Dr. Sani Aryanto, S.Pd., M.Pd, (Dekan FIP UBJ) menyoroti perlunya metode pembelajaran digital yang sesuai karakter generasi muda. Sementara itu, Dr. Achmad Fauzi, S.E., M.M, (Dosen FEB UBJ) menekankan peran pencegahan radikalisme berbasis komunitas dengan dukungan psikologis dan ekonomi. Rizma Afian Azhiim, S.IP., M.Si, (Dosen Psikologi UBJ) menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap rencana induk bela negara agar tidak hanya seremonial, tetapi menghasilkan output terukur. Prasojo, S.Sos., M.Si, (Dosen FIKOM UBJ) mengingatkan bahaya manipulasi persepsi yang dapat mengaburkan batas antara ancaman dan keamanan.

Melalui kegiatan ini, Puska BN UBJ berharap dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan interdisipliner, peta masalah dan peluang pembangunan resiliensi digital nasional, serta kolaborasi lintas fakultas dan sektor dalam riset terkait bela negara digital. Kegiatan Brown Bag Discussion Series ini menjadi wujud komitmen UBJ dalam memperkuat budaya akademik yang responsif terhadap tantangan zaman, sekaligus meneguhkan peran perguruan tinggi dalam menjaga ketahanan nasional di era digital.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas UBJ: +62 878-4162-4810

]]>
Prof. Hermawan Sulistyo Rayakan Ulang Tahun ke-68 Sekaligus Rilis Buku Terbaru https://ubharajaya.ac.id/prof-hermawan-sulistyo-rayakan-ulang-tahun-ke-68-sekaligus-rilis-buku-terbaru/ Sat, 12 Jul 2025 13:55:20 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=15880 Sukabumi – Suasana hangat dan penuh makna menyelimuti perayaan ulang tahun ke-68 Prof. Hermawan Sulistyo, M.A., Ph.D., APU, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ). Acara ini dirayakan pada Sabtu (12/07/2025), berlokasi di Edupark, Sukabumi, Jawa Barat.

Acara ini dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Irjen. Pol. (Purn) Prof. Dr. Drs. Bambang Karsono, S.H., M.M., Ph.D., D.Crim. (Honoris Causa), beserta jajaran rektorat dan civitas akademika UBJ. Kehadiran para tokoh penting dari lingkungan akademik dan kepolisian menjadikan acara ini sarat akan refleksi ilmiah dan penghormatan terhadap kiprah Prof. Hermawan dalam bidang kajian strategis dan keamanan nasional. Momen istimewa ini sekaligus menjadi ajang peluncuran buku terbaru karya beliau berjudul “Scholars & Scientists Indonesia tentang 2045 dan Respon Polisi”  yang membahas secara mendalam mengenai strategi kepolisian.

Baca Juga: Fakultas Hukum UBJ Selenggarakan Seminar Nasional RUU KUHAP dan Arah Baru Sistem Peradilan Pidana di Indonesia

Peluncuran buku tersebut menambah daftar kontribusi akademik penting yang telah beliau sumbangkan, khususnya dalam memperkuat wacana dan praktik kepolisian berbasis ilmu pengetahuan. Dedikasi Prof. Hermawan selama ini tidak hanya tercermin melalui karya-karya ilmiahnya, tetapi juga melalui peran aktifnya dalam pengembangan lembaga dan kebijakan keamanan nasional.

Baca juga: UBJ Perguruan Tinggi Pertama sebagai Fasilitator Konsolidasi Institusi Bidang Keamanan dan Akademisi dalam Peningkatan Peran Polri Mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045

Perayaan ini menjadi momen apresiasi sekaligus motivasi bagi generasi akademisi selanjutnya untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung pada masyarakat dan institusi negara.

Tim Media dan Publikasi
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Call Center Humas UBJ: +62 878-4162-4810

]]>
Jadi Kekhasan Ubhara Jaya, Sekolah Kamnas Kembali Dibuka https://ubharajaya.ac.id/jadi-kekhasan-ubhara-jaya-sekolah-kamnas-kembali-dibuka/ Thu, 27 Jun 2024 09:28:54 +0000 https://ubharajaya.ac.id/?p=10805 Bekasi – Sekolah Keamanan Nasional (Kamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) kembali dibuka. Program yang merupakan kekhasan Ubhara Jaya ini diselenggarakan untuk mendukung Visi “Terwujudkan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya sebagai universitas unggulan di tingkat nasional dan internasional yang berwawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti guna menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berperilaku baik”. 

Diketahui jika Sekolah Kamnas ini merupakan angkatan ke-4. Sebelumnya sekolah ini sempat vakum selama 2 tahun karena pandemi Covid-19.

Rektor Ubhara Jaya Irjen. Pol. (Purn) Prof. Dr. Drs. Bambang Karsono, S.H., M.M., Ph.D., D.Crim,(Honoris Causa) yang diwakilkan Kepala Pusat Kajian Ilmu Kepolisian dan Anti Korupsi, Dr. H. Moh. Djatmiko, SIK, S.H. M,SI mengatakan focal point dari penyelenggaran kelas Kamnas ini merupakan bagian dari program pusat kajian keamanan nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya yang konsen kepada isu-isu yang berkaitan dengan target dan kebijakan Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan serangkaian 17 tujuan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Kegiatan kelas Kamnas 2024 sudah selayaknya berkontribusi terhadap kesuksesan Indonesia mencapai TPB/SDGs 2030. Hal ini sebagai itikad yang tidak terpisahkan oleh insan-insan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya,” katanya, Selasa (25/6/2024).

Baca Juga: Asean University Games, Atlet Judo Meli Martha Rosita Raih Medali Emas Untuk Ubhara Jaya

Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Ubhara Jaya Prof (Ris). Hermawan Sulistyo, M.A.,Ph.D.,APU menjelaskan, aspek program kerja, pelaksanaan Kelas Kamnas didasarkan pada Program UBJ tahun 2024 pada Puskamnas, yakni “Program Kerja Pendidikan

dan Kajian Akademik” dengan nama kegiatan “Kelas Kamnas untuk Dosen UBJ”. Dia juga menuturkan Kelas Kamnas merupakan salah satu program pengembangan kepakaran keamanan dari Pusat Kajian Keamanan Nasional, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Puskamnas ). 

Puskamnas sebelumnya pernah merilis sebuah kegiatan rutin tahunan bernama Sekolah Kamnas yang ditujukan secara umum untuk memperluas cakrawala pembelajaran dan diskusi tentang isu-isu keamanan di level nasional maupun internasional. 

Namun seiring waktu melalui sejumlah evaluasi dan upaya pemutakhiran, Puskamnas akhirnya mampu merilis suatu program kegiatan yang intensif dan spesifik mengenai tema-tema keamanan, baik dalam skala teori dan konsep, metodologi penelitian, hingga menyasar kepada isu-isu keamanan mutakhir. Sehingga atas dasar pemikiran tersebut maka lahirlah embrio Kelas Kamnas. 

Prof Hermawan juga menerangkan, secara teknis pelaksanaan Kelas Kamnas tidak berbeda dengan model Sekolah Kamnas terdahulu. Sebagai sarana mempertemukan langsung para eksper disiplin keamanan dengan para peserta program. Kelas Kamnas sengaja dimodifikasi dengan model suasana pembelajaran dan diskusi interaktif dan bukan bermodelkan eksper sebagai sentra tunggal. 

Jadi Kekhasan Ubhara Jaya, Sekolah Kamnas Kembali Dibuka (Foto: Dok Humas Ubhara Jaya)

Baca Juga: Penerimaan Mahasiswa Baru Ubhara Jaya Gelombang 4 Dibuka Hingga 9 Agustus

“Para peserta akan didorong secara aktif bukan hanya mendengarkan materi yang disampaikan eksper namun juga diperkenankan mendiskusikan ide-ide dan strategi pemikiran mereka berdasarkan kebutuhan risetnya,” ujarnya.

Prof Hermawan pun menjelaskan partisipan program Kelas Kamnas tahun 2024, Puskamnas merancang skema partisipan khusus kepada para Dosen/Peneliti yang berada di lingkup sejumlah Prodi di Ubhara Jaya. Secara teknis, Puskamnas Ubhara Jaya membatasi kuota peserta program hanya untuk 30 partisipan.

“Ini dikarenakan mengingat desain Kelas Kamnas yang bermuatan interaktif intensif dan hendak mengoptimalkan ide-ide kajian serta kepakaran para Dosen/Peneliti internal Ubhara Jaya tentang dimensi studi keamanan secara multidisiplin dan transdisiplin,” ujarnya.

Adapun jadwal pelaksanaan Kelas Kamnas dilaksanakan setiap dua kali dalam satu minggu pada hari Selasa dan Kamis. Bagi kamu yang berminat bergabung dengan Kamnas ini bisa menghubungi Muhamad Lukman Arifianto di nomor 0812 1994 4232)(Telepon/SMS/Whatsapp), Ika Prabandini Arianingsih : 0812 8413 2155 (Telepon/SMS/Whatsapp) dan Sumarno : 0812 1013 4480 (Telepon/SMS/Whatsapp).

Peminat kelas ini juga bisa menghubungi nomor telepon kantor Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) pada nomor berikut: 021-889 558 82 ext: 107 (Puskamnas hanya melayani komunikasi via telepon kantor mulai dari pukul 08.00 s/d 16.00 WIB).

]]>
Ubhara Jaya Kobarkan Semangat Anti Radikalisme Lewat Seminar Nasional https://ubharajaya.ac.id/ubhara-jaya-korbarkan-semangat-anti-radikalisme-lewat-seminar-nasional/ Sun, 28 May 2017 02:42:33 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1468 Bekasi – Maraknya paham radikalisme serta akasi terorisme yang mengancam keutuhan NKRI akhir-akhir ini menggugah Universitas Bhayangkara Jakarta Raya untuk melakukan gerakan perlawanan.“Ideologi Pancasila dan NKRI dalam kondisi mengkhawatirkan dengan maraknya kekerasan dan tindakan anarkis,” ujar Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, dalam seminar nasional bertajuk “Perkembangan Terorisme dan Kontra Terorisme di Indonesia” di Ubhara Jaya, Rabu, 10 Mei 2017.

Seminar terselenggara atas keprihatinan Ubhara Jaya dan Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya atas maraknya terorisme yang marak akhir-akhir ini. Hadir dalam acara, mantan Wakil Ketua BIN DR. H. As’ad Said Ali, Sigit Karyadi, SH, MH dari BNPT, Komjen Pol (Purn) Drs. Ahwil Luthan, SH, MBA, MM Penasehat Granat, dan Ketua Umum Granat sekaligus Anggota DPR RI Henry Yosodiningrat. Hadir pula mantan Juru Bicara Presiden Prof. Dewi Fortuna Anwar, M.A, Ph.D yang didapuk sebagai moderator.

Dalam seminar tersebut, Waka Densus 88 Polri Brigadir Jenderal Eddy Hartono, SIK.,MH menyimpulkan, penyebaran paham radikalisme pro kekerasan dan aksi terorisme di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dan dampak isu global yang terjadi di beberapa Negara belahan dunia khususnya di Negara–Negara Timur Tengah, hal ini ditandai dengan berdirinya organisasi terlarang atau kelompok radikal ISIS yang ada di Iraq dan Suriah pada tahun 2014 yang lalu.

Ketika era reformasi dan keterbukaan informasi mulai berjalan maka sejalan itu pula berkembang era dimana orang–orang dan kelompok tertentu menyampaikan pendapat demi kepentingan pribadi atau kelompok golongan tanpa melihat atau mempedulikan hak dan kepentingan yang lainnya. Beberapa waktu terakhir ini banyak kita melihat langsung bagaimana orang – orang dan kelompok tertentu menyampaikan pendapat dan aspirasinya tanpa memperhatikan hak dan kepentingan orang banyak, hingga pada akhirnya era reformasi dan keterbukaan inilah yang dijadikan sarana dan media untuk menyerang keutuhan NKRI, Pancasila dan Demokrasi yang ada di Indonesia. Maka tidak menutup kemungkinan penyebaran paham radikalisme pro kekerasan, intoleransi dan bahkan aksi terorisme akan masuk di dalam era ini dan berkembang secara masif.

Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Prof. (Ris) Hermawan Sulistyo mengatakan hal serupa. , bahwa motif yang dilakukan dalam menjalankan aksi terorisme ditujukan agar pola pikir masyarakat terhadap teror pun menjadi berubah, yakni tidak lagi mengerikan melainkan jadi sebuah lelucon.

“Seperti contoh bom panci yang ada di Indonesia, mereka pikir karena bahannnya seperti itu maka dianggap tak berbahaya, padahal secara logika isi dari panci itu lah yang berbahaya, karena apa? Karena radius peledakannya yang lumayan tinggi sehinggi isi panci yang berupa besi dan paku-pakuan dapat melukai korban di sekitar lokasi,” papar pria yang akrab disapa Kikie ini.

Prof Kikie mengungkapkan, dari hal tersebut bisa dilihat bahwa instrumen yang digunakan sebagai bahan peledak sudah berganti. Misalnya, seperti di Prancis, aksi terorisme sudah menggunakan kendaraan truk, kemudian di Indonesia menggunakan orang yang disebut dengan istilah pengantin.

Tanpa banyak disadari memang telah terjadi perubahan yang fundamental dalam domain terorisme. Disisi lain, yang terjadi saat ini, bahwa publik tidak ketakutan lagi menghadapi teror, bahkan malah menjadikan teror sebagai joke. Hal ini menyiratkan ketidaktahuan publik tentang tingkat bahaya dan resiko sebuah teror bom.

“Dalam hal pengertian, ada banyak sekali definisi tentang teror dan terorisme, dari sekian banyak itu harus memenuhi sekurang-kurangnya persyaratan, yaitu tindakan yang dilakukan menciptakan rasa ketakutan, dilakukan tidak dalam kondisi perang, sasaran dan korban melibatkan warga sipil, sasaran tidak dibeda-bedakan, memiliki motif berkaitan dengan kekuasaan (politik) dan bukan sekadar kriminal biasa,” jelas pria yang juga menjadi Periset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.

Pendanaan Teror

 Dari prasyarat pemaknaan tindakan teror tersebut kebanyakan kajian tentang terorisme terfokus pada pelaku atau jaringan pelaku, motif, serta modus operandi tindakannya sendiri. Prof Kikie mengungkapkan, bahwa jarang sekali dilakukan tentang studi tentang jaringan pendanaan, dan lebih jarang lagi studi tentang perangkat atau instrumen terornya.

“ISIS jarang dibahas padahal ISIS bukan lagi sebuah teror melainkan sudah masuk ke dalam perang, yangg jadi pertanyaan dari mana suplai senjata yang mereka miliki? Seharusnya kita bisa saja mengatasi ini, cari siapa donaturnya, hukum dan putus segala bentuk suplai yang diberikan, maka selesailah masalah ISIS yang cakupannya dunia,” tukasnya.

Sementara itu, pembiacara lain dalam seminar tersebut yakni Komjen Pol (Purn) Drs. Ahwil Luthan, SH, MBA, MM mengatakan, ada kaitannya aksi terorisme dengan kejahatan yang terorganisir termasuk di dalamnya adalah perdagangan narkoba. Hubungan antara organisasi teroris dan perdagangan narkoba bisa terjadi di antaranya dari fasilitas, proteksi, transportasi, dan perpajakkan yang digunakan secara langsung dalam perdagangan narkoba oleh sebuah organisasi teroris untuk mendanai aktivitas mereka.

“Pedagang narkoba dan teroris memiliki kebutuhan yang sama dalam hal logistik bahan-bahannya dan menyembunyikan pergerakkan barang-barang, manusia dan uang yang terlibat di dalamnya, bergerak/menjual narkoba ditempat dimana teroris tersebut menguasai suatu wilayah hubungan antara pedagang narkoba dan teroris saling menguntungkan,” paparnya.

Sebelum acara seminar berlangsung, lebih dulu digelar prosesi wisuda angkatan ke-2 Sekolah Kemanan Nasional (Kamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, yang diselenggarakan oleh Puskamnas Ubhara Jaya. Prosesi hadiri oleh Rektor Ubhara Jaya Irjen Pol (Purn) Drs. H. Bambang Karsono, SH., MM. Pada kesempatan yang sama, juga dilangsungkan penandatanganan nota kesepahaman antara Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) dengan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

“Hari ini akan ada MoU Dewan Pimpinan Pusat Granat dengan Ubhara Jaya dalam rangka lebih membentengi kampus UBJ dari Narkotika. Semoga kita dapat memetik ilmu dari apa yang telah diselenggarakan demi meningkatnya kualitas seperti yang diinstruksikan oleh YBB (Yayasan Brata Bhakti),” ucap Bapak Rektor Ubhara Jaya.

 Sementara itu, Koordinator Kopertis Wilayah III DKI Jakarta Dr. Ir. Illah Sailah, MS mengatakan, pihaknya mengapresiasi langkah kampus-kampus di bawah naungan Kopertis III dalam mencegah peredaran paham radikal.

“Kegiatan ini menunjukkan komitmen Ubhara Jaya dalam mencegah paham radikalisme terutama di lingkungan kampus. Ubhara Jaya jadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI,” imbuhnya dalam sambutan.

(Tim Media Ubhara Jaya)

]]>
Commencement National Security Studies Program Ubhara Jaya Angkatan Pertama https://ubharajaya.ac.id/commencement-national-security-studies-program-ubahara-jaya-angkatan-pertama/ Wed, 14 Sep 2016 08:31:48 +0000 http://ubharajaya.ac.id/?p=1115 Bekasi – Sebanyak 24 lulusan Sekolah Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) melewati commencement angkatan pertama Puskamnas pada Kamis (01/09/16). Para peserta berasal dari bermacam latar belakang  seperti dari unsur kepolisian, akademisi, praktisi, maupun para ahli yang dilaksanakan di Auditorium Ubhara Jaya kampus II Bekasi.

Commencement National Security Studies Program juga dimeriahkan dengan acara bedah buku “Intercourse with Tragedy” karya Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, Ph.D. Acara yang berjalan dengan semarak ini menghadirkan tamu penting seperti mantan menteri keuangan Fuad Bawazier Ph.D dan komisioner KPU Hasyim Asy’ari. Beberapa pejabat dari Kepolisian, LSM, Akademisi, perwakilan kedutaan negara sahabat juga turut hadir.

Prof. Kikiek, demikian beliau biasa disapa memaparkan mengenai latar belakang terselenggaranya acara bedah buku dengan harapan akan menemukan solusi dari banyaknya permasalahan negara terutama dalam bidang keamanan nasional.”Jika kita tidak mampu mengelola yang kecil mana mungkin mendapatkan yang besar,” tuturnya mengandaikan.

Lebih lanjut Prof Kikiek menjelaskan, Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Ubhara Jaya, muncul dalam konteks konfigurasi politik nasional dan politik internasional yang berubah. Salah satu dimensi tersebut menyangkut sektor keamanan dan pertahanan negara.

Puskamnas Ubhara Jaya sebagai pusat kajian, melakukan program berbasis riset melalui berbagai kegiatan seperti seminar, workshop, FGD, advokasi, pelatihan dan berbagai kegiatan yang berfokus pada upaya pemahaman dan pendalaman menyangkut isu-isu berbasis keamanan nasional. Salah satu yang telah dilaksanakan oleh puskamnas adalah dengan menyelenggarakan Sekolah Kamnas yang pada angkatan 1 telah berhasil melantik sebanyak 24 orang lulusan.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UBJ Irjen Pol (Purn) Drs. Bambang Karsono, SH.,M.M, menyampaikan “Puskamnas Ubhara Jaya tidak memiliki kepentingan politik apapun selain mengutamakan kebebasan mimbar akademik, karena di sinilah tempatnya untuk melakukan berbagai kajian mengenai keamanan nasional secara universal.  Tentunya tujuan lainnya adalah untuk mewujudkan masyarakat yang berbudaya dalam menyelenggarakan keamanan berdasarkan pancasila dan UUD 45.

Para lulusan Angkatan I sekolah Kamnas mengaku sangat antusias untuk mempelajari lebih lanjut mengenai studi kemananan nasional ini, Sebab itu, tergagaslah sebuah gagasan mendirikan Rumah Kamnas. “Rumah Kamnas didesign untuk jangka lebih panjang pada kajian akademik masa depan. Misinya membentuk SDM berkualitas dan berbudaya, mengkaji merumuskan ketahanan nasional dan internasional untuk kepentingan nasional,” tutup Prof.Kiekiek.

]]>